Rahasia
untuk Membentuk Kesatuan Keluarga
(Efesus 2, Matius 5 & 22, 1 Yohanes 3, Ibrani 13)
Keluarga dalam Keluarga Allah: Pelajaran 8
Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Saya sementara membaca sebuah buku menarik yang memaparkan teori baru tentang bagaimana otak kita bekerja. Buku tersebut mengemukakan bahwa otak kita menangani masukan dari penglihatan, rabaan, suara, dan bau dalam cara yang sama. Kebanyakan ilmuwan (termasuk penulis buku yang saya baca) nampaknya tidak sanggup memahami hal yang nyata – bahwa kerja otak ini menunjuk kepada Perancang Agung dengan rancangan utamanya. Rancangan utama juga juga ditemukan dalam dunia rohani. Jika ciptaan Allah adalah suatu rangkaian dari pola yang berulang, mengapa harus heran bahwa Allah menggunakan pola panduan atau aturan main (hukum-hukum) untuk menuntun hidup keseharian kita. Mari mulaikan pelajaran Alkitab kita dan jelajahi hukum-hukum ini!
1.
Satu Dalam Kasih Yesus
1.
Baca Efesus 2:11-13.
Apa yang Yesus sudah lakukan bagi orang-orang bukan Yahudi?
1.
Bagaimana Ia melakukan
hal itu?
2.
Baca Efesus 2:14-16.
Apa yang menjadi tembok pemisah antara orang bukan Yahudi dan orang Yahudi
serta antara manusia dan Allah? (Hukum.)
1.
Bagaimana saudara
menjelaskan bahwa hukum agung Allah bisa memisahkan orang Yahudi dan orang
bukan Yahudi serta manusia dan Allah? (Orang Yahudi menggunakan hukum sebagai
dasar untuk menganggap diri mereka lebih unggul dari orang orang lain. Hukum
memisahkan manusia dari Allah karena hukum menampakkan keberdosaan kita di
hadapan Allah yang sempurna.)
1.
Bagaimana Yesus
“memperbaiki” masalah-masalah ini? (Oleh memenuhi tuntutan hukum bagi semua
orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yesus menjadikan kita sempurna
dalam pemandangan Allah serta menyingkirkan dasar untuk berbangga diri di
kalangan orang-orang yang “menurut” hukum.)
3.
Mari kita analisa hal
ini sejenak, seolah-olah kita ini ilmuwan. Aturan main menyeluruh (hukum
kehidupan) apa yang Yesus telah tempatkan? (Yesus menunjukkan kepada kita bahwa
dengan bersandar padaNya kita memperoleh keberterimaan sebagai suatu karunia.
Jika bersandar padaNya kita akan merasa cukup. Kebanggaan pribadi akan sirna
karena apa yang Yesus berikan kepada kita lebih daripada apa yang kita dapat
“hasilkan” oleh menuruti hukum.)
4.
Tadi kita memulaikan
dengan mengatakan bahwa Allah memiliki “aturan main,” yang kita sebut “hukum”
yang diterapkan pada aspek-aspek yang berbeda dalam kehidupan kita. Bukankah
hukum yang memisahkan orang Yahudi dari orang bukan Yahudi itu sebuah “aturan
main”?
1.
Ada hukum yang
menggantikan hukum lain?
2.
Mari tengok sepasang
ayat. Baca Matius 5:21-22 dan Matius 5:27-28. Apa yang Yesus ajarkan di sini
mengenai Sepuluh Hukum? (Ayat-ayat ini mencerminkan prinsip-prinsip yang lebih
dalam.)
3.
Baca Matius 22:37-40.
Apa yang ayat-ayat ini ajarkan mengenai Sepuluh Hukum? (Ayat-ayat ini meringkas
prinsip-prinsip yang lebih dalam.)
4.
Bagaimana pendapat
saudara sekarang: Apakah Yesus menggantikan Sepuluh Hukum dengan aturan main
yang baru? Hukum baru? (Menurut saya jawaban yang tepat adalah bahwa Sepuluh
Hukum hanyalah sekedar sepuluh penerapan dari aturan main fundamentil. Sepuluh
Hukum itu sendiri bukanlah aturan main fundamentil.)
1.
Mari sekarang terapkan
aturan fundamentil dalam kehidupan berjemaat. Pantaskah memiliki rasa lebih
unggul atau rasa rendah diri? (Manusia haruslah diberi respek berdasarkan peran
yang Allah berikan bagi mereka dalam jemaat, namun pemikiran akan adanya
anggota jemaat yang lebih unggul dan adanya anggota yang lebih rendah tidak
sejalan dengan “aturan fundamentil” bahwa oleh mengandalkan Yesus sajalah yang
mencukupkan ukuran kita.)
1.
Saat masih belia, di
gereja kecil yang kami kunjungi orang tua saya menjelaskan pada saya bahwa
semua “kaum profesional” duduk di satu sisi gereja dan semua “pekerja kasar”
duduk di sisi lainnya. Apakah anggota-anggota gereja ini paham akan aturan
fundamentil bahwa mengandalkan Yesuslah yang mencukupkan ukuran kita?
2.
Baca 1 Yohanes 3:16-18.
Aturan main apa yang kita temukan di sini? (Tadi kita memulaikan dengan
mengatakan bahwa mengandalkan Yesuslah yang mencukupkan ukuran kita di mata
Allah dan di mata sesama. Kita dianggap cukup karena Yesus mati bagi kita.
Pemikiran bahwa kita mempunyai kewajiban untuk mengasihi sesama karena Yesus
sudah mengasihi kita adalah sebuah aturan main lain yang menjadi penuntun bagi
kita.)
3.
Menurut Yohanes,
bagaimana seyogyanya aturan main fundamentil ini diterapkah dalam jemaat? (Karena
Yesus mengasihi kita sehingga sedia mati bagi kita, di dalam jemaat kita harus
saling mengasihi dengan perbuatan, bukan sekedar kata-kata.)
1.
Mari usung aturan main
kita ke luar jemaat. Apakah aturan yang sama ini (bahwa nilai kita berasal dari
Yesus) berlaku bagi masyarakat pada umumnya? Apakah berlaku juga bagi
orang-orang yang tidak percaya pada Yesus? (Sebuah buku lugas, The Bell
Curve, mengungkapkan bahwa penghasilan dan status “profesional” seseorang
umumnya merupakan prediksi dari inteligensianya. Karenanya untuk
pekerjaan-pekerjaan tertentu dibutuhkan tingkat inteligensia tertentu. Apa
seseorang bisa memilih inteligensianya? Inteligensia adalah pemberian Allah,
bukanlah hasil dari pilihan pribadi. Karena itu kebanggaan diri, sekali lagi,
harus dienyahkan.)
1.
Jika inteligensia tidak
didasarkan atas pilihan, dan karenanya bukanlah menjadi dasar untuk membuat
“ranking,” atas dasar apa seharusnya kita mengukur ranking seseorang?
(Mengasihi sesama adalah sebuah pilihan. Sejauh mana kesanggupan kita mengasihi
bukanlah suatu hal yang dibawa dari lahir. Jika hendak mengukur ranking
seseorang, kita seharusnya mengukurnya berdasarkan kasih yang ia tunjukkan bagi
orang orang lain.)
2.
Baca Ibrani 15:5-6.
Kita sudah membahas bagaimana kebersandaran diri kita pada Yesus menaikkan
posisi kita dalam soal keselamatan, kebanggaan diri dan status. Keuntungan lain
apa yang kita dapatkan oleh menuruti aturan main dengan bersandar pada Yesus?
(Yesus akan menyertai kita dalam menghadapi tantangan hidup. Kita dapat
bersandar padanya dan menyingkirkan kekhawatiran kita.)
1.
Mengapa buku Ibrani
berbicara mengenai “hamba uang” dan “mencukupkan” diri? Apa hubungannya dengan
bersandar pada Yesus? (Manusia mengandalkan kekayaan untuk melindungi diri dari
dunia. Alkitab berkata, “Kota yang kuat bagi orang kaya adalah hartanya.” Amsal
10:15. Yesus mengatakan bahwa untuk perlindungan terhadap problema dunia
diriNya lebih baik daripada harta.)
1.
Apa hal ini berlaku
dalam hidup saudara?
3.
Baca Filipi 2:3-4.
Apakah ini merupakan sebuah aturan main fundamentil yang baru? Atau, apakah ini
sekedar cerminan dari salah satu aturan main yang telah kita bahas? (Ayat ini
mencerminkan aturan fundamentil tentang mengasihi orang lain sebagaimana kita
mengasihi diri kita sendiri. Ayat ini mencerminkan aturan fundamentil dari
kebersandaran diri pada Yesus baik untuk nilai diri maupun untuk pemecahan
masalah dalam kehidupan kita.)
1.
Bagaimana kita bisa
maju di tempat kerja dengan sikap semacam ini? (Baca Filipi 2:6-9. Ayat ini
mengajarkan bahwa keberhasilan yang sesungguhnya dalam hidup berasal dari
perbuatan Allah dalam hidup kita.)
1.
Mari terapkan aturan
main ini dalam keluarga kita. Orangtua berhak memperoleh respek. Namun, apa
mereka berhak untuk meyakini bahwa mereka lebih unggul dari anak-anak mereka?
1.
Saya pernah berada
dalam situasi di mana ayah merasa iri akan kesuksesan anaknya. Aturan main
fundamental apa yang dilanggar dalam hal ini? (Tidak menunjukkan kasih yang
rela berkorban. Tidak mengakui bahwa nilai diri berasal dari kebersandaran pada
Yesus.)
2.
Bagaimana halnya dengan
kecemburuan terhadap keberhasilan saudara kandung? (Jika kita mengasihi
anak-anak kita, jika kita mengasihi saudara-saudari kita, kita ingin agar
mereka berhasil. Jika kita menyadari bahwa kita semua memiliki nilai cukup
dalam Yesus, maka tidak perlu ada persaingan dalam keluarga. Jika kita
mencukupkan diri dalam Yesus, maka persaingan akan sirna.)
2.
Apakah aturan main ini
berlaku bagi suami dan isteri? (Ya, ini membawa kita kembali pada ayat Alkitab
kesayangan saya: Efesus 5:28, “Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya
sendiri.”)
3.
Sobat, menjadikan Yesus
sebagai pusat kehidupan kita, mengakui aturan main bahwa kebersandaran diri
pada Yesus menjadikan diri kita cukup dan memberi perlindungan terhadap
masalah-masalah dalam kehidupan, merubah persepsi kita terhadap orang lain dan
dunia. Maukah engkau terapkan aturan main fundamental ini dalam kehidupanmu
sehari-hari?