<-- Tinggal Bersama Domba-domba

Tinggal Bersama Domba-domba
(Mazmur 127, Ulangan 6, Yehezkiel 18)
Keluarga dalam Keluarga Allah: Pelajaran 4

 

Copr. 2005, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan: Bagaimana kita memandang anak-anak? Apakah kita memandang mereka sebagai berkat atau gangguan yang mahal? Sebelum saya dan istri memiliki anak, dengan bercanda ia mengatakan pada beberapa keluarga muda bahwa kami akan segera memiliki bayi. Reaksi mereka teramat menarik. Mereka nampaknya bersukacita atas fakta bahwa kami akan berkubang bersama-sama mereka – kami akan harus menghadapi tantangan membesarkan anak-anak! Reaksi mereka tidak mendorong kami untuk menjadi orangtua! Mari mulaikan pelajaran kita dan lihat apa kata Alkitab tentang berkat dan tantangan memiliki anak!

 

1.      Berkat

1.      Baca Mazmur 127:3. Bagaimana Alkitab memandang anak-anak? Berkat atau kutuk? (Mereka adalah hadiah. Ini mengingatkan saya pada seorang istri yang mengeluh bahwa ia hanyalah “istri piala” – yang mana disahut oleh suaminya, “Kontes apa gerangan yang saya menangkan?” Tidak seperti gurauan tentang istri piala, Allah mengatakan bahwa kita “memenangkan” suatu hadiah ajaib dalam hidup saat kita memiliki anak.)

1.      Tatkala Alkitab mengatakan bahwa anak-anak adalah “milik pusaka” dari Tuhan, apa artinya itu? (Kata bahasa Ibraninya berarti “warisan.” Mereka “datang dari Tuhan” di mana rencana awal Allah di Eden adalah bahwa Adam dan Hawa akan mempunyai anak-anak. Lihal Kejadian 1:28 dan Kejadian 2:24)

1.      Mengapa anak-anak seperti pusaka yang kita warisi? (Pusaka mengingatkan kita akan masa lampau. Anak-anak kita mengingatkan kita akan diri kita dan orangtua kita.)

2.      Baca Mazmur 127:4-5. Apa artinya bahwa anak-anak itu seperti anak panah dan adalah baik memiliki sebuah “tabung” penuh anak panah? (Anak-anak menolong memberi dukungan kepada orangtua. Mereka diharapkan menjadi penyangga terhadap problema hidup dan hari tua.)

1.      Mengapa ayat tersebut menyebutkan “anak-anak pada masa muda?” (Pengertian ayat ini adalah ayah dan anak bekerja sama. Jika sang ayah sudah tua, dia mungkin tidak bisa bekerja dengan anak-anaknya atau mungkin sudah tutup usia.)

3.      Istri saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Orangtuanya miskin dan setelah anak pertama lahir mereka memutuskan untuk menunggu untuk memiliki anak yang berikut sampai mereka “sanggup.” Bertahun-tahun kemudian seorang teman berkata kepada mereka, “Jika kalian menunggu untuk mendapatkan seorang anak sampai kalian sanggup, kalian tidak akan pernah memiliki anak lagi.” Orangtua istri saya menerima saran teman tersebut, dan lahirlah istri saya. Apa pendapat saudara tentang saran tersebut? (Saran itu ternyata benar – dan berkat yang menakjubkan bagi saya. Istri saya tidak pernah kekurangan apapun yang ia butuhkan di masa pertumbuhannya dan orangtuanya bisa membiayai empat tahun kuliahnya di perguruan tinggi swasta.)

1.      Apakah saran teman tersebut Alkitabiah? (Jika saudara membaca pelajaran Sekolah Sabat kuartalan, saudara akan dapati dalam pelajaran hari Senin segala jenis kecemasan ihwal menjadi orangtua dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa tujuan kita punya anak?” Apakah saya memiliki “sumber daya emosi” untuk memiliki anak? Berapa banyak orang mengatakan, “Saya tidak yakin apa saya layak jadi kaya” bila tiba-tiba mereka mewarisi uang?)

2.      Kewajiban Orangtua

1.      Gantinya menanyakan apa saudara layak memiliki anak, tanyakan “Apa yang Allah kehendaki dari orangtua? Baca Ulangan 6:6-9.

1.      Syarat ekonomis dan filosofis apa yang Allah tetapkan untuk menjadi orangtua? (Tak satu pun disebutkan di sini soal persyaratan ekonomis untuk menjadi orangtua.)

1.      Adakah alasan budaya dalamnya? (Dalam masyarakat agraris anak-anak akan menjadi sumber pendapatan, bukan sekedar pengeluaran.)

2.      Baca 1 Timotius 5:8. Dapatkan ini dianggap sebagai saran ekonomis ihwal memiliki anak? (Inilah yang paling dekat yang bisa saya dapatkan dalam mencari pernyataan Alkitab soal orangtua perlu memiliki sejumlah uang sebelum mereka bisa memiliki anak.)

2.      Apa yang Allah katakan sebagai kewajiban orangtua saat mereka memiliki anak-anak? (Mengajar mereka hukum Allah.)

2.      Baca Ulangan 11:18-21. Hubungan apa yang ada antara kualitas dan lamanya hidup orangtua yang memenuhi kewajiban mereka untuk mengajarkan penurutan akan hukum Allah? (Tinggal di Kanaan adalah upah Allah bagi umat-Nya. Mengajar anak-anak menurut kepada Allah memperpanjang kualitas dan lamanya hidup dari orangtua dan anak-anak.)

3.      Baca Amsal 19:18. Bagaimana hal ini menjelaskan kesanggupan orangtua untuk memperpanjang hidup anak-anaknya?

4.      Baca 1 Samuel 3:13-14. Apa yang dikedepankan di sini soal kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya? Apa yang Eli gagal lakukan terkait dengan anak-anaknya? (Ia gagal menahan mereka dari melakukan hal yang jelas-jelas merupakan dosa.)

5.      Baca Efesus 6:4. Kewajiban lain apa yang orangtua perlu lakukan terhadap anak-anaknya? (Jangan menggusarkan hatinya.)

1.      Bagaimana cara menghindarkan diri dari menggusarkan anak-anak kita? (Alkitab mengatakan bahwa membesarkan anak dalam ajaran dan petunjuk Allah adalah jalan untuk menghindar dari menggusarkan anak-anak.)

1.      Apakah saudara dapati hal tersebut benar? (Orangtua menghadapi kesulitan tatkala mereka tidak konsisten. Saat orangtua tidak konsisten, anak-anak menjadi tidak jelas akan “garis” batas dan karenanya mereka akan gusar.)

6.      Bisakah anak-anak menggusarkan hati orangtua mereka? Bagaimana kita menghindarkan hal itu? (Baca Amsal 29:17. Oleh mendisiplin anak-anak kita.)

7.      Gantinya berkata, “Calon-calon orangtua, kalian harus lolos ujian penghasilan dan motif sebelum kalian memiliki anak,” Alkitab memandang anak-anak sebagai pemberian Allah dan mengatakan “Sekarang setelah kalian jadi orangtua, ajari anak-anakmu untuk mengasihi dan menuruti Allah.”)

3.      Upah Kekal

1.      Apakah saudara perhatikan saat kita baca tentang Eli dan anak-anaknya, sepertinya bahwa baik orangtuan dan anak-anak mengalami kesusahan karena dosa dari para anak-anak? Baca Keluaran 20:5-6. Dampak apa dari dosa orangtua dapat akibatkan kepada anak-anaknya?

1.      Dampak apa dari dosa anak-anak dapat akibatkan kepada orangtua mereka?

2.      Baca Yehezhiel 18:4. Akankah orangtua yang berdosa menyebabkan anak yang saleh kehilangan hidup kekal?

1.      Jika tidak, lantas apa yang dibicarakan Keluaran 20:5-6? (Alkitab mengajar apa yang kita dapat amati: orangtua meneruskan kepada anak-anaknya sifat baik dan buruk. Hal-hal ini dapat menghadirkan isu karakter yang kita perlu perhatikan dalam upaya kita menghidupkan kehidupan yang saleh. Namun, ciri pembawaan yang diwariskan ini tidak akan menyebabkan kita kehilangan hidup kekal.)

3.      Akankah anak yang berdosa menyebabkan orangtua yang benar kehilangan hidup kekal? (Dalam Yehezkiel 18:5-9 kita baca tentang kehidupan dari seorang yang benar. Baca Yehezkiel 18:9. Dalam Yehezkiel 18:10-13 kia baca bahwa orang ini memiliki seorang anak yang jahat dan fakta-fakta dari kehidupan anak ini. Baca Yehezkiel 18:13. Dalam Yehezkiel 18:14-18 kita baca bahwa seorang cucu lahir dan menghidupkan kehidupan yang benar. Baca Yehezkiel 18:17-18.)

4.      Baca Yehezkiel 18:19-20. Bagaimana saudara meringkaskan pemikiran Allah? (Kita dapat membicarakan dampak dari orangtua dan anak-anak bagi kehidupan pihak lain, tapi Allah mengajarkan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas keselamatannya sendiri.)

5.      Meskipun orangtua tidak dapat menyebabkan anak-anaknya kehilangan hidup kekal, dapatkah cara orangtua membesarkan anak-anaknya menyebabkan orangtua kehilangan hidup kekal? (Baca Matius 18:5-6 mengindikasikan bahwa ini adalah dosa serius. Tentu saja, Yesus datang untuk mengampuni kita atas dosa-dosa kita.)

6.      Sobat, Allah rindu agar engkau memiliki anak-anak. Mereka adalah berkat dan upah. Namun, Allah mengharapkan engkau, sebagai orangtua, untuk sangat berhati-hati membesarkan anak-anakmu. Maukan engkau menerima tanggung jawab yang diberikan Allah sebagai orangtua ini dengan sungguh-sungguh?

4.      Pekan depan: Murid Mencari Murid Lainnya.