Firman
Tuhan mengenai Kehidupan Keluarga
(Keluaran 17, 20 dan Amsal)
Keluarga dalam Keluarga Allah: Pelajaran 2
Copr. 2005, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Sudahkah saudara perhatikan betapa pentingnya “kecakapan berinteraksi” untuk mencapai kehidupan yang baik? Mudah sekali mengenali orang-orang yang kepribadiannya memancar, yang mudah berkawan dengan siapa saja. Ada yang menyebut kesanggupan berkawan dengan orang lain, kesanggupan untuk mengucapkan kalimat yang tepat ini sebagai “kecerdasan emosi” [emotional intelligence]. Ketika saya masih kecil, kakak saya banyak mengajar saya bagaimana memiliki kepribadian yang menarik dan menjadi pemimpin yang baik. Kecerdasan emosi sangat penting bagi perkawinan, sangat penting dalam membesarkan anak-anak. Alkitab tidak hanya memberi kita prinsip-prinsip dasar bagi keluarga, namun juga memiliki banyak hal yang mengajar kita tentang kecerdasan emosi keluarga. Mari kita mulai!
1.
Dasar Utama
1.
Baca Keluaran 20:17.
Apa arti “mengingini” isteri sesamamu? (Berharap bahwa dia milik saudara.
Baru-baru ini saya membaca ringkasan survai yang menyebutkan bahwa lebih
separoh dari lelaki yang di-survai telah berpikir tentang melakukan hubungan
seks dengan isteri orang lain.)
1.
Apa perintah ini
berlaku juga bagi isteri-isteri? (Ya.)
2.
Apa salahnya dengan
sedikit berangan-angan? Sedikit berkhayal? (Hal itu menambah rasa tidak puas
dengan pasangan saudara. Memikirkan hal-hal seperti itu menuntun kepada
perzinahan – yang dilarang dalam Keluaran 20:14.)
3.
Apakah perintah jangan
mengingini berlaku juga untuk bidang-bidang selain seks? Salahkah seorang
isteri jika ingin suaminya menghasilkan lebih banyak uang, ke gereja, berbusana
lebih baik, dst., persis seperti suami tetangganya? (Keluaran 20:17 mengatakan
jangan mengingini “apapun yang dipunyai sesamamu.” Larangan tersebut berlaku
sangat luas.)
2.
Baca Keluaran 20:12.
Mengapa Allah menghendaki agar anak-anak menghormati orang tua mereka? (Seperti
ihwal mengingini, ini adalah soal sikap yang benar. Jika saudara menghormati
orang tua saudara, saudara akan taat dan akur dengan mereka.)
3.
Jika anak-anak tumbuh
dengan sikap hormat pada orang tua mereka, akankah mereka juga cenderung
menghormati pasangannya? (Saya pikir ada kaitannya. Dosa berawal dari dalam
pikiran lewat sikap kita. Jika kita bersikap bahwa pasangan kita itu “kelas
dua,” kita berada di jalan yang menuju pada perzinahan. Jika kita bersikap
bahwa orang tua kita idiot, kita sudah jauh menapak di jalan yang menuju
ketidakpatuhan. Memiliki sikap positif terhadap orang tua kita sebelum kita
menikah menolong kita untuk memiliki sikap yang positif terhadap pasangan
kita.)
1.
Baca Efesus 5:28. Sikap
destruktif apa yang dimaksud oleh ayat ini? (Egois. Seorang suami yang
mengingini istri sesamanya itu egois. Seorang anak yang maunya melakukan
kehendak sendiri bukannya mengikuti kebijakan orang tuanya itu egois. Egois ada
di balik setiap dosa. Efesus menjelaskan bahwa ada cara tanpa dosa untuk
mengangkat nilai diri. Cara benar untuk mengangkat nilai diri adalah dengan
mengasihi istri saudara. Jika saudara benar-benar mau mengangkat nilai diri,
perlakukan istri saudara sebagaimana saudara memperlakukan diri saudara. Apapun
yang saudara inginkan agar istri saudara lakukan untuk saudara, lakukan hal
tersebut untuknya. Jika ini masih terdengar asing baca Matius 7:12 dan Roma
13:9.)
2.
Melampaui Dasar Utama
1.
Di bangku kuliah kerap
ada kelas “pemula” dan “lanjutan” untuk suatu mata kuliah. Sepuluh Hukum
meliputi dasar utama dari hubungan keluarga. Dalam buku Amsal kita dapati
beberapa bahasan lanjutan dan spesifik tentang meningkatkan kecerdasan emosi
kita dalam hubungan dengan keluarga kita.
2.
Cekcok keluarga: Baca
Amsal 20:3 dan Amsal 29:11. Nasihat perkawinan apa yang kita dapati di sini
tentang bagaimana menghindari pertikaian? (Pasangan/orangtua yang bijak
berupaya menghindari percekcokan. Mengendalikan amarah menunjukkan
kebijaksanaan.)
1.
Baca Amsal 15:1. Dalam
cara apa kata-kata dapat meredakan pertengkaran?
3.
Soal uang: Baca Amsal
17:1 dan Amsal 15:16-17. Setahu saya, pertikaian soal uang adalah penyebab
nomor satu perceraian. Apa kata Alkitab tentang pentingnya uang bagi
kebahagiaan?
1.
Berapa banyak keputusan
keluarga diambil berdasarkan pertimbangan keuangan?
1.
Bagaimana dengan
keputusan di mana salah satu pasangan tinggal di rumah dan membesarkan
anak-anak?
2.
Bagaimana dengan
keputusan di mana salah satu pasangan bekerja dengan waktu lebih panjang “demi
keluarga?”
4.
Depresi: Baca Amsal
25:20. Pendekatan apa yang paling baik saat pasangan saudara sedih?
5.
Rumah tangga yang
saleh: Baca Amsal 14:26. Bagaimanakah takut akan Tuhan itu menjadi perlindungan
bagi anak-anak kita? (Bilamana kita mempunyai hubungan yang benar dengan Allah,
kita memiliki benteng yang melindungi kita dari dunia. Benteng ini juga
melindungi anak-anak kita.)
1.
Dalam cara apa
anak-anak kita dilindungi? (Mereka belajar tentang menaruh kepercayaan pada
Allah. Ada tema yang kuat dalam Perjanjian Lama tentang Allah menunjukkan kebaikan
kepada anak-anak dari orang-orang yang takut kepadaNya.)
6.
Afirmasi: Baca Amsal
3:27. Ingatkah saudara akan situasi di mana saudara seharusnya mengatakan
sesuatu yang positif kepada anak-anak atau pasangan saudara, tapi saudara tidak
melakukannya? Apa yang ayat ini kedepankan mengenai hal tersebut?
1.
Di masa kecil saya,
saya memiliki seorang sobat karib yang diperlakukan dengan ganjil oleh ayahnya.
Sang ayah akan mengatakan hal-hal yang tidak bernada pujian tentang anaknya,
kemudian berpaling dan mengatakan hal-hal yang bernada pujian kepada saya.
Untuk alasan yang tidak saya pahami, Ia menahan dari anaknya hal “baik” yang
pantas diterima sang anak.
2.
Saat berurusan dengan
pasangan kita, apakah perbuatan lebih penting dari perkataan? (Baca Amsal
12:14. Alkitab mengedepankan bahwa perbuatan dan perkataan sama pentingnya.)
3.
Baca Amsal 12:18.
Seberapa pentingkah berlaku hati-hati dengan apa yang kita ucapkan kepada
pasangan kita?
4.
Baca Amsal 12:25 dan
Amsal 16:24. Peluang apa yang ada dalam perkataan kita?
1.
Efek apa yang bisa
ditimbulkan oleh perkataan kita pada kesehatan pasangan kita?
7.
Keceriaan: Baca Amsal
15:30. Sebagai tambahan kepada perkataan dan perbuatan, cara lain apa yang bisa
menjadi berkat bagi keluarga kita? (Rupa yang ceria. Memiliki sikap positif.)
8.
Meminta saran:
Terkadang kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi problema
keluarga. Bijaksanakah bila membaca buku saran keluarga atau minta saran dari
orang lain? Mari lihat beberapa ayat mengenai hal ini:
1.
Baca Amsal 15:22 dan
Amsal 13:10. Apa yang ayat ini kedepankan tentang orang-orang yang tidak mau
menerima saran?
2.
Baca Amsal 14:7 dan
Amsal 12:5. Dari siapa kita harus minta saran?
3.
Baca Amsal 25:12.
Haruskah kita sedia dinasehati karena kita adalah sumber dari problema
keluarga?
4.
Baca Amsal 17:9.
Peringatan apa yang kita dapati di sini dalam hal meminta saran soal problema
keluarga? (Minta saran tidaklah sama dengan gembar-gembor kepada semua orang
yang saudara kenal soal kesalahan pasangan (atau anak-anak) saudara. Kalimat
bagus ini perlu kita simpan dalam ingatan.)
9.
Bila kita lihat ada
orang lain yang menghadapi problema keluarga, haruskah kita menawarkan saran
walau tidak diminta? Alkitab menyebut orang sombong dan angkuh itu “pencemooh.”
(Lihat Amsal 21:24). Apa yang Alkitab kedepankan tentang memberikan saran
kepada orang sombong dan angkuh? (Baca Amsal 9:7-8)
10.
Sobat, Alkitab memiliki
petunjuk penting untuk meningkatkan kecerdasan emosimu saat berhubungan dengan
dengan keluargamu. Akankan engkau memutuskan untuk mengikuti saran Allah?
3. Pekan depan: Pemulihan.