Keluarga
yang Terdiri dari Berbagai Keluarga
(Kejadian 2, Matius 19, 1 Korintus 17, Roma 1)
Keluarga di dalam Keluarga Allah: Pelajaran 1
Copr. 2005, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Orang Kristen menghadapi berbagai macam pergumulan. Kebanyakan adalah pertarungan intern dengan godaan. Sebagian adalah pertarungan melawan kejahatan yang tumbuh dalam masyarakat. Semuanya (sebagaimana yang kita pelajari kwartal lalu) adalah pertempuran melawan roh-roh jahat. Salah satunya adalah pergumulan bagi keluarga. Dibutuhkan usaha untuk memainkan peran dalam keluarga kita. Sifat alami keluarga dalam masyarakat sekarang kini sedang diserang. Pelajaran kita kwartal ini adalah segala sesuatu mengenai keluarga. Minggu ini kita mulai dengan memikirkan definisi keluarga menurut Alkitab. Mari kita mulai!
1.
Keluarga yang Pertama
1.
Baca Kejadian 2:18. Apa
pandangan Allah atas kesendirian Adam? (Tidak baik.)
2.
Baca Kejadian 2:19-20.
Apa Allah sedang bercanda? Apakah Allah dan Adam benar-benar mempertimbangkan
semua “mahluk yang hidup” satu persatu guna melihat kalau-kalau salah satu dari
mereka dapat menjadi “penolong yang sepadan” bagi Adam? Bisakah saudara
bayangkah Adam berujar tentang seekor sapi: “Maaf, saya tidak bisa bicara
‘sapi.’” “Jika Bessie adalah penolong saya, kami akan menghadapi masalah
komunikasi yang serius.”
3.
Baca Kejadian 2:21-22.
Apa yang istimewa dengan Hawa? (Ia sengaja diciptakan untuk Adam. Ia bukanlah
sesuatu yang sudah diciptakan yang “kebetulan pas” sebagai pendamping.)
1.
Pelajaran apa yang kita
tarik dari penciptaan Hawa dari sebuah rusuk? (Ada perlambangan kesetaraan di
sini. Dikemukakan bahwa rencana awal Allah adalah bahwa ia akan penjadi seorang
penolong yang setara.)
1.
Apakah urutan
penciptaan menganjurkan ada yang pertama di antara yang setara?
4.
Baca Kejadian 2:23-24.
Akankah “satu daging” mengijinkan hal lain selain kesetaraan? (Baca Efesus
5:28-29. Paulus menggunakan frasa “tubuhnya sendiri” untuk menyampaikan konsep
“satu daging” Allah mengenai hubungan antara suami dan istri.)
2.
Yesus dan Keluarga
1.
Baca Matius 19:3-6. Apa
kesimpulan yang Yesus tarik soal perceraian dari rencana Kejadian? (Jika seorang
lelaki dan seorang perempuan menjadi satu daging dalam perkawinan, mereka tidak
boleh bercerai.)
2.
Baca Matius 19”7-8.
Apakah Musa bertindak menurut kemauannya sendiri? Atau, apakah peraturan ini
diberikan oleh Allah karena ketegaran hati orang-orang? (Saya pikir tidaklah
tepat untuk mengatakan bahwa Musa menuliskan tanpa seijin Allah. The New
Bible Commentary mengatakan demikian: “Peraturan perceraian [dari Musa]
adalah kelonggaran untuk menangani dosa, buka pernyataan dari cara yang Allah
inginkan. Perceraian barangkali perlu, tapi tidak pernah menjadi hal yang
baik.)
1.
Mari tengok ayat yang
dimaksud oleh orang Parisi: baca Ulangan 24:1. Adakah yang terlihat tidak adil?
(The IVP Bible Background Commentary menunjukkan bahwa laki-laki
dapat menceraikan perempuan secara sepihak, tapi tidak demikian halnya dengan
perempuan. “Penolakan Yesus pada perceraian semacam ini adalah juga sebagai
perlindungan bagi perempuan yang menikah.”)
3.
Baca Matius 19:9. Apa
“klausul pengecualian” dari perkawinan yang Yesus ijinkan? (“Zinah.” Bagi
mereka yang mengira bahwa hanya laki-laki yang bisa menceraikan, lihat Markus
10:12.)
1.
Seorang teman yang
sementara mengurus perceraian berkata pada saya, “Saya tidak mengerti kenapa
orang Kristen sangat sedia menentang perkawinan homoseksual sementara
perkawinan heteroseksual menjadikan definisi dari “perkawinan” sebuah lelucon.”
Apakah orang Kristen menjadikan perkawinan sebuah “lelucon?” Sudah hilangkah
hak moral mereka untuk berbicara menentang perkawinan homoseksual? (Jika saja
orang-orang sempurna diijinkan berdiri melawan dosa, tak seorangpun yang akan
menentang dosa. Tapi, pokok pikirannya jelas. Mereka yang mengaku mengikut
Yesus perlu sedia melindungi perkawinan dari perceraian sebagaimana halnya
melindunginya terhadap serangan homoseksual. Kita tidak boleh memiliki dua
standar: satu untuk orang berdosa “seperti kita” dan lainnya untuk orang
berdosa dengan cobaan yang berbeda.)
4.
Baca Matius 19:10-12.
Apa reaksi dari para murid sebagai respons atas ajaran Yesus bahwa peraturan
perkawinan harus kembali kepada aturan yang ditetapkan pada waktu penciptaan?
(Mereka terkesima. Sepertinya hal itu adalah standar yang mustahil
dipertahankan.)
1.
Tatkala Yesus menjawab
dengan berkata, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka
yang dikaruniai saja,” apa yang dimaksud? Apakah Ia sedang berbicara mengenai
peraturan menentang perceraian atau peraturan bahwa janganlah menikah jika
saudara tidak taat pada peraturan menentang perceraian? (Saya tidak tahu
jawabannya. Jelas bahwa Yesus sedang meletakkan aturan tegas bagi perkawinan
dan perceraian. Yang ideal tidak diragukan lagi. Di lain pihak, perkataan Yesus
“tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu,” dapat merujuk kepada
kesediaan Allah di masa lampau untuk berlaku fleksibel terhadap perceraian
mengingat sifat berdosa dari manusia. Karena Yesus mati karena masalah dosa,
sulit bagi saya untuk mengajarkan bahwa Allah “fleksibel” terhadap dosa.)
3.
Lajang Dewasa
1.
Tengok kembali Matius
19:11-12. Alasan positif apa yang Yesus berikan untuk tidak menikah?
2.
Baca 1 Korintus 7:1 dan
1 Korintus 7:7-8. Di antara pernyataan Yesus dan Paulus, bagaimana seharusnya
orang yang tidak menikah itu memandang kehidupan? (Baca 1 Korintus 7:32-34.
Keadaan lajang memberi saudara kesempatan untuk fokus pada pekerjaan
meninggikan kerajaan Allah.)
3.
Pikirkan kembali
Kejadian 2:18. Bagaimana saudara menjelaskan pertentangan yang nampak antara
ajaran dalam Kejadian (“tidak baik …. seorang diri”) dengan ajaran Paulus dan
Yesus bahwa menjadi lajang itu baik untuk meninggikan kerajaan Allah? (Baca 1
Timotius 4:1,3. Soalannya adalah apakah saudara melarang perkawinan. Perkawinan
dimaksudkan sebagai hal yang baik. Itulah idealnya. Namun, beberapa orang
mungkin memilih untuk mencabut dari mereka hal baik ini guna meninggikan
kerajaan Allah. Mengambil keputusan sukarela seperti itu juga baik adanya.)
4.
Apakah para lajang itu
sebuah keluarga? (Sebagai orang Kristen, mereka adalah bagian dari keluarga
Allah. Lihat 1 Timotius 5:1-2.)
4.
Kecurangan Keluarga
1.
Baca Roma 1:18-20. Di
awal pelajaran ini kita mempelajari bahwa Allah khusus menciptakan Hawa untuk
menjadi mitra Adam. Secara logis dan intelektual, pantaskah mendebatkan maksud
Allah berkenaan dengan perkawinan heteroseksual lawan homoseksual dari caranya
Ia mencipta? (Kita melihat perkembangan ide dalam Penciptaan. Pertama, Allah
memeriksa semua ciptaanNya untuk mencari penolong yang tepat. Ia kemudian
menciptakan Hawa. Ia tidak menciptakan seorang laki-laki lainnya, walau Ia
pasti bisa melakukannya. Akhirnya, dan yang paling penting, Allah memerintahkan
agar laki-laki dan perempuan bersatu sebagai “satu daging.” Anak-anak saya
adalah “satu daging” yang dihasilkan dari perkawinan saya. Keseluruhan rencana
keluarga yang mula-mula menjadi alasan untuk menentang kesahihan keluarga
homoseksual.)
1.
Saudara pasti sudah
mendengar ujaran, “Jika Allah memaksudkan manusia untuk merokok, Ia akan
menciptakan mereka dengan cerobong asap.” Menurut saudara apa logika di balik
itu? (Roma 1:20 sepertinya mengatakan bahwa adalah perkara besar tentang Allah
yang dapat dimengerti dari penciptaan.)
1.
Apakah perkawinan
homoseksual itu sebuah “perkara besar?”
2.
Baca Roma 1:21-23. Apa
yang disodorkan ayat ini sebagai perkembangan logis dari mereka yang menolak
otoritas Allah? (Pengertian mereka digelapkan. Dengan bodohnya mereka mulai
beribadah pada benda-benda buatan mereka bukannya pada Pencipta segala
sesuatu.)
3.
Baca Roma 1:24-25.
Mengapa kecemaran seksual menjadi bagian dari penolakan terhadap otoritas
Allah?
4.
Baca Roma 1:26-27.
Disebut apa hubungan seksual itu oleh Alkitab? (Perbuatan yang tidak wajar.)
5.
Perhatikan argumen
Paulus. Kita mengawalinya dengan argumen tentang keberadaan Allah berdasarkan
ciptaanNya. Kita mengakhirinya dengan sebuah kesimpulan mengenai
homoseksualitas. Betapa masuk akalkah hal tersebut? (Tatkala Allah menciptakan
dunia, sebagian dari ciptaanNya adalah format laki-laki dan perempuan yang
menjadi bagian dari proses penciptaan yang berkelanjutan. Format ini nampak
baik pada manusia juga pada hewan. Inilah satu dari “gambaran besar,” “perkara
besar” yang dapat dilihat oleh siapapun yang mempunyai pikiran terbuka. Ketika
manusia menjadi jahat, dan mulai beribadah kepada karya mereka bukannya kepada
Pencipta mereka, mereka juga menolak format Pencipta mereka bagi proses penciptaan
berkelanjutan. Dalam terang ini, menganjurkan perkawinan sejenis menjadi
perkara fundamental, seperti evolusi dan Sabat. Evolusi adalah serangan
terhadap otoritas dari Pencipta kita. Penolakan Sabat adalah serangan atas
peringatan mingguan kita bagi penciptaan (Kejadian 2:3; Keluaran 20:11).
Homoseksual adalah serangan terhadap format utama dari penciptaan. Setan tidak
dungu. Ia melakukan yang terbaik untuk merusak logika yang menegakkan kesetiaan
kita kepada Allah Pencipta kita.)
6.
Sobat, Allah menciptakan
keluarga saat Ia menciptakan dunia. Maukah engkau melaksanakan bagianmu untuk
mengangkat rencana awal Allah bagi manusia?
5. Pekan depan: Firman Allah bagi Kehidupan Keluarga.