Hubungan
Sejati Kristiani
(Ephesians 5:21-6:9)
Efesus: Pelajaran 11
Copr. 2005, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Maukah saudara berhasil dalam hidup dan cinta? Orang Kristen memiliki banyak keuntungan dalam hidup. Salah satu keuntungan terpenting adalah ajaran praktis Alkitab soal meningkatkan kecerdasan emosional kita. Pelajaran kita minggu ini, jika diseriusi, akan memberi kita suntikan “I.Q” emosional guna menghadapi pekerjaan kita, perkawinan kita, anak-anak kita dan sahabat-sahabat kita. Mari kita mulai!
1.
Takluk Satu Sama Lain
1.
Baca Efesus 5:21.
Alkitab Terjemahan lama menuliskan ayat ini sebagai berikut: “sambil
menaklukkan dirimu kepada sama sendiri dengan takut akan Yesus Kristus.” Apa
artinya “takluk” kepada orang Kristen lain? (Wuest’s Word Studies [Telaah
Firman oleh Wuest] menyebutkan istilah ini mempunyai pengertian militer:
seperti membariskan pasukan untuk bertempur. Pasukan akan takluk kepada
organisasi.)
1.
Bagaimana saling takluk
bisa berlangsung secara logis? Di kemiliteran ada individu-individu yang
berbeda pangkat. Haruskah orang-orang berpangkat lebih tinggi takluk kepada
yang berpangkat lebih rendah? Bagaimana bisa jenderal takluk kepada prajurit?
Perwira takluk kepada tamtama? (Saling takluk tidaklah sama dengan yang terjadi
di kemiliteran. Paulus memberi kita konsep baru.)
2.
Apa kaitan “di dalam
takut akan Yesus Kristus” dengan takluk satu sama lain? (Saya kesulitan membawa
pikiran saya kepada konsep “takluk satu sama lain.” Ini mestinya berarti bahwa
Tuhan kita menyebabkan kita memiliki suatu rasa hormat istimewa bagi satu sama
lain.)
3.
Jika Yesus adalah
landasan bagi saling takluk, apa yang hal tersebut anjurkan soal sifat alamiah
dari takluk itu? (Pertama, itu berarti kita hanya membicarakan takluk yang
berada di bawah tata perilaku orang Kristen. Kedua, sepertinya saling takluk
yang absolut, tidak akan pernah terjadi di organisasi manapun. Karenanya,
mestilah hal itu berarti takluk di dalam tatanan otoritas yang diciptakan oleh
Allah. Paulus lebih lanjut menjelaskan tatanan otoritas Allah, karenanya mari
kita melanjutkan.)
2.
Suami dan Isteri
1.
Baca Efesus 5:22-24.
Apa arti bagi seorang isteri untuk “tunduk” kepada suaminya? (Setidaknya
memiliki pembatasan seperti yang kita dapati dalam Efesus 5:21 – bahwa hal
tersebut harus terjadi dalam tata perilaku orang Kristen.)
1.
Pikirkan lagi tentang
Efesus 5:21. Haruskan seorang suami takluk kepada istrinya? Apakah satu-satunya
orang yang tidak harus ia takluk kepada adalah isterinya?
2.
Karena Efesus 5:21
mengatakan agar kita takluk satu sama lain, tidakkan perintah agar
isteri-isteri tunduk kepada suami mereka berlebihan? (Kita simpulkan bahwa
ayat-ayat setelah Efesus 5:21 adalah penjelasan bagi buah pikiran yang sulit
soal saling takluk yang mutlak. Karenanya, Efesus 5:22 pastilah mempunyai arti
tambahan.)
3.
Paulus mengatakan bahwa
tunduknya isteri kepada suami adalah seperti tunduknya jemat kepada Yesus.
Dalam cara apa jemaat tunduk kepada Yesus? (Takluk kepada petunjukNya yang
penuh kasih dan teladan hidupNya.)
4.
Apakah petunjuk perihal
istri yang tunduk terbatas pada budaya di mana Paulus tinggal? (Paulus tidak
menyinggung soal budaya. Semua patokan, semua rujukannya menunjuk pada Yesus
dan hubunganNya dengan jemaat. Ini adalah referensi yang tidak dibatasi waktu.)
2.
Baca Efesus 5:25-27.
Dalam cara apa Yesus menyerahkan diriNya bagi Jemaat? (Seluruh hidup Yesus di
dunia adalah contoh dari penyangkalan diri. Ia benar-benar tidak memiliki
harta. Ia bahkah menyerahkan hidupNya bagi orang lain.)
1.
Haruskah para suami
mengasihi para isteri dalam cara yang sama ini: menyangkali diri? (Ya.)
2.
Apa tujuan dari
kewajiban suami untuk menyangkali dirinya bagi isterinya? (Untuk menolongnya
menjadi kudus.)
1.
Bagaimana hal tersebut
bisa terjadi? (Baca Roma 12:20-21. Inilah tema Kekristenan. Oleh menyerahkan
diri bagi orang lain, kita memenangkan mereka kepada Yesus. Seorang suami yang
menyerahkan diri bagi isterinya, memenangkannya bagi Allah.)
3.
Baca Efesus 5:28. Ini
adalah satu dari ayat-ayat kesukaan saya dari seluruh Alkitab. Jika saudara
ingin memiliki perkawinan yang baik, perhatikan petunjuk ini: “Siapa yang
mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Kebanyakan dari apa yang Paulus
tuliskan itu rumit. Perintah ini tidak demikian.
4.
Baca Efesus 5:29-30.
Wahai lelaki, apakah engkau mengasihi isterimu seperti engkau mengasihi dirimu
sendiri? Apakah engkau merawatnya seperti engkau merawat dirimu sendiri?
5.
Setelah melihat
petunjuk kepada para suami dan para isteri ini, dapatkah saudara membayangkan
sebuah situasi di mana seorang suami menuntut agar istrinya tunduk kepadanya?
(Perintah bagi para istri untuk tunduk memang ada. Namun, para suami
diperintahkan untuk menyerahkan diri bagi isteri, untuk mengasihi isteri
seperti mengasihi diri sendiri. Sikap di pihak suami adalah yang menyebabkan
seorang isteri tunduk secara sukarela. Secara verbal menghantam isteri saudara
dengan perintah untuk tunduk tidaklah efektif. Tunduk kepada penyangkalan diri
suami adalah tunduk yang dunia tidak akan mengerti.)
6.
Baca Efesus 5:31-33.
Apa artinya bagi seorang lelaki untuk meninggalkan ayah dan ibunya?
1.
Haruskan seseorang yang
sudah menikan tinggal dengan orangtuanya ketika ia pertama menikah?
2.
Haruskan seseorang
yang sudah menikah menghabiskan lebih banyak waktu berbicara dengan orangtuanya
daripada dengan isterinya?
3.
Haruskan seseorang yang
sudah menikah membawa perselisihan dengan isterinya kepada orangtuanya?
Haruskan seorang isteri membawa perselisihan dengan suaminya kepada orang
tuanya? Konsistenkah hal ini dengan arahan agar mereka menjadi “satu?” (Ketika
seorang pasangan pergi kepada orangtuanya agar mereka sepakat melawan pasangan
yang lain, maka pemecahan masalah menjadi hampir tidak mungkin. Pasangan yang mendapat
dukungan dari orang tua tidak mempunyai alasan untuk berkompromi. Pasangan yang
berdiri sendiri akan menjadi marah dan frustasi. Hal terbaik bagi mereka yang
“bersatu” dalam perkawinan adalah mengatasi masalah di antara mereka berdua
atau dengan bantuan profesional dari seorang yang tidak bias. Anggota keluarga
yang bias akan memperburuk keadaan.)
4.
Pernahkan saudara
mendengar para isteri berkumpul dan membicarakan hal-hal yang tidak terpuji
mengenai suami-suami mereka? Konsistenkah hal ini dengan petunjuk untuk
menghormati suamimu?
5.
Pernahkan saudara
mendengar para suami berkumpul dan membicarakan hal-hal yang tidak terpuji
mengenai isteri-isteri mereka? Konsistenkah hal ini dengan petunjuk untuk
mengasihi isterimu?
3.
Orangtua dan Anak-anak
1.
Baca Efesus 6:1-3.
Kaitan logis apa yang bisa saudara lihat antara panjang umur dan berbahagia
dengan menghormati orangtuamu? (Jika saudara menjalani sebuah jalan, saudara
akan meminta petunjuk dari seseorang yang sebelumnya sudah pernah melewatinya.
Ini hal yang masuk akal. Orangtua sudah melintasi jalur kehidupan. Mereka
barangkali tidak mengambil rute terbaik, tapi kemungkinan mereka tahu rute
terbaik. Orangtua yang saleh mempunyai keuntungan tambahan karena memiliki
wawasan tentang Pencipta Kehidupan. Mengikuti petunjuk dari orangtua yang saleh
meningkatkan kualitas dan panjangnya kehidupan.)
2.
Baca Efesus 6:4. Paulus
membandingkan menggusari anak-anak dengan mendidiknya dalam ajaran dan nasehat
Tuhan. Jelaskan bagaimana keduanya berseberangan? (Orangtua terkadang
dibingungkan antara peraturan mereka dan peraturan Allah. Ulangan 4:2
mengatakan janganlah menambahi atau mengurangi dari perintah Allah.
Membuat-buat peraturan saudara sendiri yang menjengkelkan (seperti yang
dilakukan pemimpin bangsa Yahudi pada zaman Yesus) atau gagal melaksanakan
peraturan Allah (seperti pemimpin bangsa Yahudi lakukan sebelum penawanan
Babel) kedua-duanya salah. Menyalahi sisi manapun akan membuat frustrasi
anak-anak saudara.)
4.
Majikan dan Karyawan
1.
Baca Efesus 6:5-7.
Apakah nasihat ini berlaku bagi karyawan? (Ya.)
1.
Haruskan sifat
majikanmu merubah cara saudara bekerja? (Tidak. Saudara harus bekerja
seakan-akan saudara sedang bekerja bagi Allah.)
2.
Kapan saja Allah
memperhatikan pekerjaanmu? (Setiap waktu.)
1.
Berapa lama saudara
harus menjadi karyawan yang rajin?
3.
Peran apa yang serikat
pekerja harus jalankan dalam hubungan ini? (Akankah saudara mogok terhadap
Allah? Akankah saudara menggertakNya dan menuntut hak saudara?)
2.
Baca Efesus 6:8. Siapa,
sejatinya, yang membayar kerja kita? (Allah akan memberi kita imbalan atas
pekerjaan kita.)
3.
Baca Efesus 6:9.
Kewajiban apa yang dimiliki majikan terhadap karyawannya? Apa yang dimaksud
Paulus tatkala ia mengatakan “perbuatlah demikian juga terhadap mereka?”
(Menurut saya, ia sedang menunjuk kepada karyawan yang bekerja seakan-akan
mereka sementara bekerja bagi Allah. Majikan harus membuat keputusan yang saleh
dalam perlakuan terhadap karyawan. Mereka tidak boleh menyiksa para karyawan.)
1.
Akankah kewajiban ini
melebar kepada para penyelia? Apakah mereka juga diwajibkan oleh Allah untuk
tidak mengancam orang-orang yang berada dalam kendali mereka?
2.
Apa yang harus
dilakukan oleh seorang karyawan yang mempunyai majikan yang tidak adil, tapi
yang mengetahui bahwa ia harus bekerja bagi majikannya seakan-akan ia sedang
bekerja bagi Allah? (Berbeda dengan budak, kita dapat berganti majikan. Jika
kita memiliki majikan yang menghormati Allah, perkerjaan kita akan jauh lebih
baik.)
4.
Sobat, apakah engkau
menyesali keputusan yang engkau ambil di masa lampau? Cara untuk menghindari
penyesalan, cara untuk meningkatkan kecerdasan emosionalmu adalah dengan
mengikuti nasehat Allah. Maukah engkau berketetapan untuk melakukannya hari
ini?
5. Pekan depan: Peperangan Kristiani